Selamat Tinggal Firqoh Abu Hamzah


Catatan ringan dari seorang mantan anggota sebuah FIRQOH sempalan yang TIDAK JELAS ASAL USUL pemahamannya, hanya mengandalkan akal



Mukaddimah

Segala puji bagi Allah. Kami memujiNya, meminta pertolonganNya, meminta ampunanNya dan berlindung kepadaNya dari kejahatan diri kami dan keburukan perbuatan kami. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tak seorang pun mampu menyesatkannya dan barang siapa disesatkan oleh Allah, maka tak seorang pun mampu memberinya petunjuk. Saya bersaksi sesungguhnya tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah, tidak ada sekutu bagiNya. Dan saya bersaksi sesungguhnya Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah

Amma Ba’du..

Berkembangnya gerakan (harakah) sudah sangat meresahkan masyarakat. Pengaruh ajarannya telah dapat mengubah gaya dan cara hidup (way of life) bagi pengikutnya. Gerakan mereka sangat halus dan pintar, sehingga tidak semua orang dapat mengetahui, terlebih memahami bahwa pemahamannya bertentangan dengan pemahaman para ulama generasi salaf[1], yang merupakan generasi sebaik-baik ummat. Hanya dengan petunjuk dan hidayah Allah SWT, kita dapat menempuh jalan yang lurus.

Isyarat munculnya berbagai penyimpangan dan munculnya aliran-aliran menyesatkan telah disabdakan oleh Rasulullah SAW,

"Akan keluar suatu kaum akhir jaman, orang-orang muda berfaham jelek. Mereka banyak mengucapkan perkataan "Khairil Bariyah"(maksudnya: mengucapkan firman-firman Tuhan yang dibawa oleh Nabi). Iman mereka tidak melampaui kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana meluncurnya anak panah dari busurnya. Kalau orang-orang ini berjumpa denganmu lawanlah mereka." (Hadits Sahih riwayat Imam Bukhari).

Dari Ibnu 'Abbas r.a. berkata Rasulullah SAW. pernah bersabda,

"Sesungguhnya di masa kemudian aku akan ada peperangan di antara orang-orang yang beriman." Seorang sahabat bertanya: "Mengapa kita (orang-orang yang beriman) memerangi orang yang beriman, yang mereka itu sama berkata: 'Kami telah beriman'." Rasulullah SAW. bersabda: "Ya, karena mengada-adakan di dalam agama, apabila mereka mengerjakan agama dengan pendapat fikiran, padahal di dalam agama itu tidak ada pendapat fikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya." (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

Bahwa Allah SWT telah menurunkan Al Qur'an untuk menjadi pedoman kehidupan bagi seluruh ummat manusia adalah merupakan suatu hal yang disepakati oleh ummat muslim di seluruh dunia semenjak dahulu hingga hari ini, dan Allah SWT juga telah menetapkan bahwa Nabi Muhammad Rasulullah SAW menjadi tolok ukur benar tidaknya seseorang memahami dan mempraktekkan semua ketentuan Allah SWT di dalam Al Qur'an, tidak boleh ada satu manusia pun yang menyelisihinya. Permasalahan yang muncul adalah, antara zaman Rasulullah SAW dengan zaman kita sekarang terdapat jarak 1400 tahun lamanya. Tidak ada satu pun manusia di zaman sekarang yang berjumpa langsung dengan Rasulullah SAW.

Dalam situasi yang seperti ini muncullah orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, mereka mengKLAIM bahwa mereka dapat mengajarkan pemahaman/tafsir Al Qur'an sebagaimana yang Rasulullah SAW pahami dan praktekkan hanya dengan menguasai beberapa ayat saja dari Al Qur'an secara harfiah tanpa memperdulikan pendapat para shahabat dan para ulama salaf. Dia menempatkan Al Qur'an sebagai kitab yang bisa dipahami bebas berdasarkan akalnya dengan mengkaitkan satu ayat dengan ayat yang lain -–yang lagi lagi-- berdasarkan penafsiran akal pribadinya terhadap ayat :

“…Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)…” (Al Baqoroh : 185)

Dia berasumsi akalnyalah yang mengaitkan antara ayat yang satu dengan ayat yang lain. Pendapat para ulama salaf dia langkahi, karena dia merasa lebih suci daripada ulama salaf tersebut. Pernah mereka menjawab tentang gugatan mengapa mereka melangkahi pendapat para ulama salaf dalam menafsirkan ayat Al Qur'an? Jawaban mereka adalah Allah SWT menurunkan Al Qur'an bukan untuk membuat manusia susah[2]. Jadi mereka menganggap bahwa memperhatikan pendapat ulama salaf dalam menafsirkan ayat merupakan hal yang menyusahkan usaha mempelajari Al Qur'an.

Mereka sangat berani dan berkeyakinan benar dalam berdialog, karena mereka bicara berdasarkan Al-Qur’an, namun mereka berpaham berdasarkan pemahaman mereka sendiri, dan ber-madzhab berdasarkan madzhab mereka sendiri. Mereka tidak mengenal betul bagaimana kepribadian Rasulullah SAW, sejarah hidupnya, perkataannya, dan sebagainya. Terlebih terhadap para shahabat Rasulullah SAW, dan para imam yang telah Allah SWT beri petunjuk atas mereka. Sangat kentara kemalasan mereka (baca:ketakutan melanggar larangan pendiri firqoh ini untuk membaca buku buku lain) untuk mengkaji bagaimana orang orang yang telah Allah SWT muliakan di masa lalu tersebut memahami Al Qur'an, bagaimana mereka menerapkan Al Qur'an. Mereka mencukupkan diri dengan menggunakan akal mereka dalam menfsirkan ayat ayat Al Qur'an. Sehingga sangat banyak pemahaman pemahaman yang menyimpang beredar di firqoh ini, pemahaman yang tidak pernah di ajarkan oleh Rasulullah SAW, tidak pernah dipahami oleh para shabatnya dan para imam/ulama salaf. Bahkan kadang pemahaman pemahaman lucu dan menggelikan (baca:menjijikkan) --yang merupakan akibat dari mengedepankan akal pribadi masing masing untuk memahami Al Qur'an-- beredar dengan bebasnya, yang akan pembaca dapati dalam penjelasan penjelasan dibawah ini. Allah SWT berfirman :

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan selain jalannya orang-orang Mukmin, Kami palingkan dia kemana dia berpaling dan Kami masukkan dia ke dalam Jahanam. Dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa’ : 115)


Mengenai latar belakang penulisan tulisan ini tidak lain hanya ingin mengingatkan saudara saudara saya yang masih berada di dalam firqoh ini supaya menelaah ulang niat awal apa yang kita cari dalam kehidupan ini? Apakah hanya dengan bergabung dalam pengajian ini sudah menjamin kita mendapatkan tjuan hidup kita? Sudah yakin dengan seyakin yakinnya kah kita bahwa KELOMPOK yang kita ikuti selama ini sudah berada di jalan yang benar? Sudahkan kita mempelajari jalan hidup orang orang yang telah Allah SWT anugerahi nikmat atas mereka dengan sebenar benarnya mempelajari? Dalam hal mempelajari adakah kita benar benar terbebas dari intervensi individu? Tahukah kita apa saja dan bagaimana sajakah gerakan firqoh firqoh dan para Ahlul Bid’ah pada masa lalu dan masa kini menjalankan operasi penyesatannya? Dan bagaimana cara para orang beriman pada masa lalu menghadapi mereka? Apa saja hujjah  mereka?

Saudara saudara saya, anda akan sangat mudah memahami tulisan ini, jika ANDA BERSEDIA MELETAKKAN segala kebanggaan predikat yang anda dapatkan di kelompok ini dan kemudian benar benar berdiri di pihak Allah SWT. Sudah waktunya bagi saudara untuk memohon dengan segala kerendahan diri kepada Allah SWT supaya Allah SWT menyelamatkan kita dari fitnah fitnah rancangan syaiton yang terkutuk. Karena hanya Dia lah yang sanggup melakukannya. Ini mengenai nasib kehidupan kita YANG ABADI nanti di akhirat, jangan mau ditukar hanya dengan kebanggaan kebanggaan yang menipu.

Mengenai metode penyusunan tulisan ini masih bisa dibilang sangat jauh dari keteraturan disiplin penulisan secara umum, karena saya bukanlah berlatar belakang penulis, bisa jadi terdapat bahasa bahasa bebas di dalam tulisan ini tanpa bermaksud untuk mengaburkan maknanya. Tapi sekalipun demikian saya berusaha semampu saya untuk membuatnya mudah dimengerti. Lebih utama dari semua itu adalah saya memohon petunjuk jalan yang lurus kepada Allah SWT Yang Maha Memberi petunjuk. Tiada yang dapat menyesatkan siapa yang Allah tunjuki dari jalan yang lurus. Dan tiada yang dapat menunjukan jalan yang lurus, siapa yang Allah sesatkan. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan petunjuk dan semoga kita termasuk orang yang ditunjukan dan menempuh jalan yang lurus dengan taufik dan hidayah-Nya, amin


Biografi singkat abu hamzah

Namanya agus, nama kuniyah nya adalah abu hamzah, suku jawa, masa kecilnya adalah anak menteng, berdomisili di depok 2 dan cibinong karena dia memiliki 2 orang istri, istri pertamanya adalah seorang perempuan minang asli (batusangkar) -yang paling banyak mempengaruhi semua keputusan dan pengajaran di firqoh ini-. Istri keduanya adalah seorang perempuan jawa. Seorang pegawai negeri di era awal 80an yang mendapatkan beasiswa dari pemerintah Indonesia untuk kuliah di Australia (yang pada akhirnya melepaskan ikatan dinasnya), ketika di Australia dia belajar tafsir Al Qur'an kepada pak syafi’i[3], kemudian pulang ke Indonesia pada pertengahan atau akhir tahun 80an dan menyebarkan ajarannya. Data terakhir yang diketahui (sering marah jika ditanya ttg hal ini) agus belajar kembali kpd syafi’i (yang pd saat itu berdomisili di Kelantan, Malaysia) pada akhir tahun 1997, setelah itu tidak pernah diketahui (karena semua muridnya dilarang menanyakan hal tersebut) kapan lagi agus belajar kpd syafi’i. Entah apa sebabnya dia tidak lagi belajar kepada syafi’i. Agus dan syafii tidak di kenal sama sekali di dunia islam secara global, sehingga hal inilah yang membuat keresahan bagi kalangan pencari kebenaran yang mungkin masih ada di dalam lingkarannya. Lazimnya pembawa kebenaran semenjak zaman dahulu selalu dikenal, tapi justru dia melarang keras anggotanya untuk menceritakan tentang jati diri dia kepada masyarakat diiringi dengan WAJIB sangka baik dengan larangannya itu. Ditambah dengan sikap kerasnya setiap kali dipertanyakan ttg sanad seluruh riwayat tafsir Al Qur'an dan haditsnya.

Overall anak menteng ini hanyalah seorang pendiri sebuah pengajian eksklusif, yang dengan sangat mudah MENTAKFIR SELURUH manusia di muka bumi yang tidak terhubung belajar Al Qur'an nya kepada dia. Ahlul bid’ah yang sangat fanatik terhadap kebid’ahannya (bahkan jika dibandingkan dengan Al Qur'an sekalipun). Tidak boleh ada ayat Al Qur'an dan Hadits (apalagi atsar sahabat atau para imam salaf) yang menyelisihi pendapat dia.


Strategi lihai

Firaun berkata: "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar".[4]

Perhatikan, fir’aun pun mengtakan perkataan yang sepertinya baik, tapi ternyata Allah SWT melaknatnya dan memerintahkan seluruh manusia untuk melaknatnya dikarenakan perilakunya yang justru menantang Allah SWT dan merampas hak hak Allah SWT pada diri manusia.

Kemiripan ini banyak didapati dari diri pemimpin kelompok ini, kebanyakan riwayatnya bersifat oral (baca:lisan), tidak bisa dibuktikan secara otentik karena pemimpinnya tidak pernah menulis sebuah buku pun, dan melarang dengan keras murid muridnya untuk merekam secara audio semua perkataannya dengan alasan “keamanan”. Sehingga sekalipun ada gugatan seperti ini, dengan mudah mereka tidak mau mengakui apa yang telah mereka katakan, syari’at bikinan mereka yang telah mereka tetapkan untuk seluruh anggotanya, ghibah yang mereka lakukan. Pemimpinnya sangat lihai dalam hal “cuci tangan” atas semua yang pernah dia katakan. Tidak ada takut takutnya kepada Allah SWT sedikit pun, sangat tidak mengherankan jika orang orang dalam kelompok ini di kenal sebagai orang orang yang licik dan culas, kepentingan pemimpin dan kepentingan kelompoklah yang nomor 1, kalimat Allah SWT itu hanya untuk dijadikan retorika dalam berkampanye memikat hati manusia manusia awam untuk bergabung kepada mereka. Kejujuran adalah perkara yang SANGAT MAHAL di dalam kelompok ini. Anggota kelompok ini berdiri dipihak pemimpin, bukan berdiri dipihak Allah SWT, sekalipun mereka mengetahui kebenaran atas sesuatu, jika pemimpin tidak menyukainya maka mereka bersedia untuk berdusta demi pemimpinnya.

Pemimpinnya mensosialisasikan berbagai pemikiran (Ro’yu), tapi sasaran dari pemikiran itu adalah kemanfaatan yang besar kepada pemimpinnya, sama sekali TIDAK PERNAH MEMPERDULIKAN tentang kalimat Allah SWT di dalam setiap sosisalisasi yang mereka buat, salah satunya adalah sosisalisasi dengan judul TRANSPARANSI. Lebih memfokuskan supaya seluruh anggota kelompok ini transparan dalam hal KEKAYAAN, berapa harta yang dimiliki, dari mana dapatnya, dan seberapa penggunaan kekayaan tersebut dipakai untuk kepentingan kelompok.

Tapi..

Dalam hal ILMU.. Tidak pernah sedikit pun pemimpinnya TRANSPARAN..!! Bahkan akan sangat marah dan tersinggung jika ditanya tentang perawi keilmuan yang dia miliki. Sangat tabu bagi anggota kelompok ini untuk bertanya tentang perawi, mereka hanya di ajarkan untuk patuh kepada pemimpinnya saja, tidak penting taat kepada Allah SWT, tidak penting bertanya tentang perawi seperti yang banyak dilakukan oleh generasi terbaik di dalam ummat ini, cukupkan diri dengan apa yang pemimpin ajarkan saja, kalau tidak suka dan tidak mau mendengarkan apa kata pemimpinnya, akan diamputasi[5] yang kemudiannya akan di anggap keluar dari islam (murtad), sangat jelas sebenarnya, pemimpinnya ini bukan hendak menyebarkan syiar islam, tapi hendak membuat AGAMA baru, dia memiliki hak absolut (hak yang bukan dari Allah SWT, tapi dia sendiri yang menetapkan untuk dirinya) untuk menetapkan siapa saja yang beriman dan siapa yang tidak. Hanya Nabi saja yang Allah SWT berikan hak tersebut


Kemiripan dengan Khowarij Gaya Baru (KGB)

Gerakan mereka sangat mirip dengan LDII, NII atau yang sejenisnya yang sangat kuat disinyalir sebagai gerakan KGB, bedanya hanya dalam hal baiat, mereka tidak melakukan seremonial baiat ini, tetapi dalam prakteknya, mereka 1112 (sama saja) dengan LDII dan NII. Sama sama “mengikat leher[6]” anggotanya, dan menggenggam kehidupan anggota kelompoknya, mengajarkan kebanggaan berdasarkan kelompok. Mereka hanya melakukan perubahan kecil saja untuk membedakan diri dengan LDII dan NII yang sudh terlanjur ketauan kesesatannya. Selain baiat, tentang nama pengajian, mereka tidak memberikan nama atas kelompok mereka, katanya “kita bukan firqoh, kalo firqoh itu ciri cirinya pake nama”, tetapi –lagi lagi- dalam prakteknya mereka jauh lebih firqoh ketimbang firqoh firqoh yang ada.



Hal hal yang menyimpang :


1.   Kepemimpinan/Imamah/Perwalian

Dalam sebuah studi, ciri khas firqoh bukan terletak di pemberian label bagi kelompok yang sedang dia bangun, yang sebagian orang berpendapat bahwa firqoh itu adalah sebuah pengajian yang memberikan nama nama tertentu kepada pengajiannya. Tetapi biasanya mereka selalu akan memfokuskan, mengedepankan dan menomor satukan materi dan topik pengajaran mereka tentang kepemimpinan/imamah/perwalian. Sekalipun pada prakteknya mereka memulai pengajaran/pengajian dengan materi ma’rifatullah, hal ini mereka lakukan untuk mengelabui target, terbukti ketika target tersebut sudah “dalam genggaman” mereka, segala pengajaran tentang ma’rifat akan dengan cepat sekali luntur maknanya di dalam hati target, tergantikan dengan kebanggaan terhadap kelompoknya dengan hujjah hujjah tentang kepemimpinan/imamah/perwalian yang pemahamannya berdasarkan pendapat pendiri firqoh tersebut. Ketika kebanggaan kelompok sudah mendominasi di hati target, maka pendiri kelompok tersebut akan melakukan pembiaran, bahkan di support kebanggaan tersebut. Karena visi dan misi sebenarnya sudah tercapai. Visi dan Misi yang katanya Mencari Ridho Allah SWT dan Menegakkan Dien di muka bumi hanyalah retorika saja, akan larut dengan sendirinya. Retorika yang dilakukan secara periodik untuk mempertahankan kesan bahwa kelompok mereka benar benar mecari ridho Allah SWT dan berjuang menegakkan Din. Ya, hanya untuk retorika yang mengelabui anggota saja, tidak lebih.

Ketika ketaqwaan yang haq terbangun di hati target sementara kebanggaan kelompok dengan mentaati/mendukung pendapat pendiri kelompok tidak juga terbangun, biasanya mereka akan melakukan penekanan melalui sindiran sindiran halus, terlebih jika si target sudah cukup banyak mengetahui rahasia kelompok, maka si target tersebut akan diwaspadai. Inilah yang sebenarnya yang menjadi ciri khas sebuah firqoh, apa pun firqoh mereka.

Usaha mereka mengikat leher[7] anggotanya, beberapa hujjah yang mereka pakai adalah Al Qur'an surah An Nisaa ayat 59 :

”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

Hujjah mereka selanjutnya adalah :

“Barangsiapa yang mati sementara dia tidak memiliki imam, maka matinya seperti orang jahiliyyah” (HR. Muslim).

Sementara mengenai kata “pemimpin/imam/ulil amri” mari kita perhatikan dialog antar imam Ahmad bin Hanbal dengan muridnya ishaq bin Ibrohim :

Ishaq bin Ibrohim bertanya kepada imam Ahmad, apakah makna hadits berikut ini? “Barangsiapa yang mati sementara dia tidak memiliki imam, maka matinya seperti orang jahiliyyah” Sebelum menjawab Imam Ahmad balik bertanya Apa yang kamu ketahui tentang imam (pemimpin)? Ishaq menjawab : Imam (pemimpin) adalah orang yang memimpin semua kaum muslimin. Imam Ahmad menjawab : inilah makna pemimpin (yang harus dimiliki) dalam hadits tersebut.”[8]


Kemudian hadits (atsar atau hadits mauquf yang diucapkan Umar bin Khaththab) yang berbunyi:

"Tidak ada Islam tanpa jama'ah, dan tidak ada jama'ah tanpa imamah, dan tidak ada imamah tanpa ketaatan."

Atsar atau hadits mauquf ini ditafsirkan menurut pendapat pemimpin kelompok ini ialah sbb:

1.  Islam seseorang itu tidak sah kecuali dengan berjama'ah. Dan yang dimaksud jama'ah katanya ialah jama'ahnya Abu Hamzah.
2.  Jama'ah juga tidak sah kalau tanpa imam. Dan yang dimaksud imam Abu Hamzah.
3.  Harusnya Abu Hamzah menafsirkan" "Imamah juga tidak sah tanpa ketaatan." Sesuai dengan urutan penafsirannya pada point 1 dan 2. Akan tetapi dengan lihai Abu Hamzah memutar penafsiran point 3 dengan ucapan : "Ber-Imam atau mengangkat imam itu tidak sah kecuali dengan melaksanakan ketaatan kepada imam (Abu Hamzah)."

Lantas bagaimana seharusnya sikap kita disaat tidak ada pemimpin yang memimpin SELURUH ummat islam seDUNIA? Perhatikan hadits berikut :

"Maka apabila engkau melihat adanya khalifah, menyatulah padanya, meskipun ia memukul punggungmu. Dan jika khalifah tidak ada, maka menghindar."[9]

Nabi SAW menegaskan, bahwa wajibnya bai'at adalah kepada khalifah, jika ada atau terwujud meskipun khalifah melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji seperti memukul, dll. Thabrani mengatakan bahwa yang dimaksud menghindar ialah menghindar dari kelompok-kelompok manusia (golongan/firqoh-firqoh), dan tidak mengikuti seorang pun dalam firqoh yang ada[10]. Dengan kata lain, apabila khalifah atau kekhalifahan sedang vakum, maka kewajiban bai'atpun tidak ada. Juga, hadits Rasulullah SAW, yang artinya:

"Barang siapa mati tanpa bai'at di lehernya, maka matinya seperti mati jahiliyah." (HR. Muslim).

Yang dimaksud bai'at disini ialah bai'at kepada khalifah, yaitu jika masih ada di muka bumi. Dan termasuk di dalamnya sikap, tidak ada kewajiban untuk memperlakukan seseorang imam shalat/guru/pemimpin safari(perjalanan) seperti memperlakukan khalifah seolah olah sudah berbaiat. Baiatnya saja tidak ada, apalagi sikap ketaatannya. Dalam hal kepemimpinan perjalanan, atau kepemimpinan dalam shalat, ketaatan tersebut hanya berlaku di dalam perjalanan/shalat tersebut. Setelah selesai shalat/perjalanan tersebut maka lepas pula ketaatan. Tidak berhak seorang guru mengatur ngatur kehidupan makmumnya, mengatur kepada siapa harus mempelajari islam, mengatur dimana seharusnya berdomisili, dan sebagainya. Kepemimpinan tersebut sifatnya hanya kepemimpinan fungsional (Tanfidz), bukan Kepemimpinan dengan Mandat Penuh (Tafwidhi)[11].

Kemudian perhatikan pula hadits berikut :

“Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu Ta'ala Anhu berkata: Manusia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya: Wahai Rasulullah, sebelumnya kita berada di zaman Jahiliyah dan keburukan, kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah ini ada keburukan? Beliau bersabda: 'Ada'. Aku bertanya: Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan? Beliau bersabda: Ya, akan tetapi didalamnya ada dakhanun. Aku bertanya: Apakah dakhanun itu? Beliau menjawab: Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka ingkarilah. Aku bertanya: Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan? Beliau bersabda: Ya, da'i - da'i yang mengajak ke pintu Jahannam. Barangsiapa yang mengijabahinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku. Beliau bersabda: Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita. Aku bertanya: Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya? Beliau bersabda: Berpegang teguhlah pada Jama'ah Muslimin dan imamnya. Aku bertanya: Bagaimana jika tidak ada jama'ah maupun imamnya? Beliau bersabda: Hindarilah semua firqoh itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu”[12]

Dinyatakan dalam hadits Hudzaifah tersebut supaya menjauhi semua firqoh jika kaum muslimin tidak mempunyai jama'ah dan tidak pula imam pada hari terjadi keburukan dan fitnah. Semua firqoh tersebut pada dasarnya akan menjerumuskan ke dalam kesesatan, karena mereka berkumpul di atas perkataan/teori mungkar (mungkari minal qaul) atau perbuatan mungkar, atau hawa nafsu. Mereka semua itu akan menjerumuskan ke dalam neraka Jahannam, dikarenakan membawa misi selain Islam atau Islam yang sudah dirubah..!!

Perintah Rasulullah SAW dalam hadits tersebut adalah untuk berpegang teguh secara bebas dan merdeka dengan TIDAK MENGIKATKAN DIRI kepada siapa pun, terlebih kepada orang yang hanya bermodal pengakuan saja, sementara aqidah dan akhlaqnya nyata kasat mata binasa. Dan bersabar dalam memegang Al-Haq serta menjauhi firqoh-firqoh sesat yang menyaingi Al-Haq. Al-Haq yang dipahami oleh orang orang yang telah PASTI DIJAMIN keselamatannya oleh Allah SWT, yaitu Rasulullah SAW dan para sahabatnya, para thabiin dan para imam yang telah diberi petunjuk dan diakui oleh ummat islam sedunia semenjak dulu.

Dan Ketahuilah bahwa sekarang ini, kaum Muslimin atau dunia Islam tidak mempunyai Khalifah yang memimpimnya. Maka hendaklah setiap Muslim menjauh dari firqah-firqah yang menyesatkan terlebih terhadap firqoh yang menghambakan diri kepada dinar, dirham dan pakaian. Dalam hal ini Imam Bukhari telah menyusun satu bab khusus yang berjudul "Bagaimana perintah syari'at jika jama'ah tidak ada?". Silahkan masing masing pembaca melanjutkan studi mengenai hal ini dengan menelusuri pendapat orang orang beriman pada masa lalu yang mereka pun mengalami fase zaman dimana banyak terdapat firqoh firqoh sesat. Mudah mudahan Allah SWT memberikan cahayaNya kepada para pencari kebenaran dan pencari Ridho-Nya. Amin


2.   Belajar ilmu jangan seperti menjahit baju

Sosialisasi :              Hanya boleh belajar tafsir qur’an di majelis yang “terhubung” dg pemimpinnya saja, Tidak Boleh[13] belajar di pengajian pengajian lain dan ulama lain diluar kalangan anggota kelompok. Segala pemahaman yang datangnya dari pemimpin, maka imani saja tdk usah banyak tanya, dan segala pemahaman yang datangnya bukan dari pemimpin, maka harus di tanyakan/di cek terlebih dahulu “keatas”, jika di izinkan maka boleh dipake, dan jika tdk di izinkan maka jangan coba coba menggunkan keterangan tersebut. Kecuali jika sudah siap mental menerima kenyataan marwah hancur lebur, kami akan mempropagandakan fitnah fitnah halus bagi kalian yang bandel..!! kalau masih mau bersama kami maka jangan macem macem, tapi kalo masih bandel juga, propaganda propaganda baru yang lain[14] telah kami siapkan supaya kalian enyah dari kelompok kami..!!

Fakta :       Pada kenyataannya, pemimpin kelompok ini belajarnya dari nonton tv, memperhatikan langkah langkah pemerintah dan penguasa penguasa dunia saat ini dalam menangani permasalahan permasalahannya, kemudian jika beliau suka dengan langkah pemerintah tsb, maka si beliau akan mencari ayat ayat dlm Al Qur'an yang sesuai[15], lalu menyusunnya menjadi sebuah doktrin dengan kalimat indah dan mensosialisasikannya kepada pengikutnya dengan “memaksa” para pengikut untuk menerima doktrin tsb. Ironisnya, beliau melarang muridnya utk membaca buku buku ulama salaf, bahkan berani mengatakan sebuah buku dan penulisnya sesat padahal si beliau sendiri belum lagi mengetahui apa isi dari buku tersebut, hanya karena penulis tersebut tidak di dalam kepemimpinannya, kepemimpinan yang dia tetapkan untuk dirinya sendiri.

Bantahan : Perilaku tersebut sangat identik dg perilaku ahli kitab dalam mendoktrin umatnya, sebagaimana yang Allah SWT sebutkan dalam ayatnya di surah Al-Maidah ayat 41, dan mirip dg kisah fir’aun dg para tukang sihirnya dalam surah Thaha ayat 71.


3.   Menafsirkan Al Qur'an dan Hadits berdasarkan Ro’yu pemimpinnya

Dalil mereka adalah surah An Nahl ayat 43 :

“Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki laki yang Kami beri whyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”

Sejak awal, semua anggota sudah diarahkan atau didoktrin untuk hanya menerima penafsiran ayat dan hadits yang berasal dari pemimpinnya. Berdasarkan ayat ini, mereka mendoktrin anggota anggotanya untuk bertanya terlebih dahulu “kepada pemimpin kelompok ini dan atau kepada anggota kelompok yang sudah diakui keimanannya oleh pemimpin kelompok” jika ingin mengetahui tentang kebenaran sesuatu, TIDAK BOLEH bertanya kepada selain anggota kelompok, ahli dzikr hanya ada di kelompok mereka, siapa pun manusianya di muka bumi ini jika tidak dibawah kendali pemimpin kelompok ini, maka perkataannya sesat, dan orang yang bertanya nya kepada orang diluar kalangan, maka dianggap kafir dan murtad. Na’udzubillah min dzalik

a.   Penafsiran surah Ankabut  ayat 51 dan surah Yunus ayat 32

Di dalam kelompok ini mereka gemar sekali menafsirkan ayat ayat Al Qur'an berdasarkan ro’yu mereka sendiri tanpa mau mempelajari dan mengenal bagaimana orang orang yang telah dijamin keselamatannya[16] menafsirkan, dan mereka pun menafikkan pemahaman para imam madzhab dan penerusnya yang lurus, mereka enggan mempelajari buku buku para imam tersebut dengan berhujjah ayat Al Qur'an di surah Al Ankabut  ayat 51 :

“Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu kitab (Al Qur'an) yang dibacakan kepada mereka? Sungguh dalam (Al Qur'an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang orang yang beriman”

Dan ayat surah Yunus ayat 32 :

“Maka itulah Allah, Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka mengapa kamu berpaling (dari kebenaran)?”

Penafsiran mereka terhadap ayat ayat tersebut adalah : “cukup Al Qur'an saja, tidak boleh baca buku buku lain selain Al Qur'an, buku lain itu sesat, karena buku buku itu dicetak oleh orang orang diluar kalangan, yaitu orang kafir. Siapa yang membaca buku buku lain tanpa sepengetahuan kami, maka itu sama saja artinya tidak beriman kepada Al Qur'an, percaya kepada orang kafir, dan tidak akan termasuk kalangan orang orang yang beriman. Dan dengan demikian halal darahnya dan layak baginya untuk dihancurkan marwahnya”

Ironisnya, setelah menafsirkan dengan penafsiran yang kasar dan seenak jidatnya seperti itu, mereka mengecualikan “buku buku lain” tersebut, ada beberapa buku lain yang mereka baca juga, beberapa diantaranya adalah :

-          Tafsir Ibnu Katsier cetakan Bina Ilmu
-          Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam
-          Asbabun Nuzul
-          Al Ahkam As Shultoniyah; Imam Mawardi
-          Tasir Jalalain
-          Tafsir Ath Thobari
-          Semua buku Biografi Khulafaur Rasyidin karangan Haekal
-          Riyadush Sholihin

Itupun jika ada riwayat di dalam buku buku tersebut yang TIDAK SESUAI DENGAN VISI DAN MISI JAMA’AH (baca:visi dan misi pendiri firqoh), maka mereka dengan gampang mengatakan bahwa riwayat tersebut salah, pemimpinnya mengambil posisi sebagai hakim atas pemahaman para ulama salaf tersebut, yang berhak menetapkan benar atau salah atas pemahaman pemahaman di dalam buku tersebut. Dan melarang seluruh anggota firqohnya untuk memegang pemahaman yang sudah difatwakan salah oleh pemimpin firqoh ini. Terciptalah dengan alami sikap taqlid dari para anggotanya dengan perilaku pemimpin yang seperti ini, tapi mereka satu pun tidak ada yang mau mengakuinya, baik pemimpinnya maupun pengikutnya. Melarang manusia tapi mereka melanggar sendiri larangan yang mereka buat.

Mereka juga membaca, memahami dan mengajarkan ayat dibawah ini, tetapi sungguh mereka sangat tidak memiliki keinginan untuk menjadikan ayat ini sebagai pembelajaran bagi diri mereka masing masing, ayat yang dimaksud adalah :

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka.”[17]

Dari Abdullah bin Mas'ud bahwa Rasulullah SAW bersabda :

"Tidak ada seorang nabi pun yang diutus Allah kepada suatu ummat sebelumku, melainkan dari umatnya itu terdapat orang-orang yang menjadi pengikut dan sahabatnya, yang mengamalkan Sunnahnya dan menaati perintahnya. (Dalam riwayat lain dikatakan, "Mereka mengikuti petunjuknya dan menjalankan Sunnahnya.") "Kemudian setelah terjadi kebusukan, dimana mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan. Maka orang-orang yang memerangi mereka dengan lidahnya, niscaya dia termasuk orang-orang yang beriman. Demikian juga dengan orang yang memerangi mereka dengan hatinya, niscaya dia termasuk orang yang beriman. Selain itu, maka tidak ada keimanan sebesar biji sawi pun." (HR. Imam Muslim)


b. Penafsiran ayat Al Qur'an surah Al Baqoroh ayat 247

“Dan Nabi mereka berakata kepada mereka : “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Talut menjadi rajamu.” Mereka menjawab “Bagaimana Talut memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi) menjawab “Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberinya kelebihan ilmu dan fisik” Allah SWT memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui”

Penafsiran mereka tentang kata “wal jism”[18] dalam ayat tersebut adalah bahwa :

“Orang yang kuat fisiknya, jarang sakit, dan kuat secara harta (kaya).”

Lebih dominan mereka menekanankan makna “wal jism” tersebut sebagai kuat secara harta (kaya). Perhatikan kembali ayat diatas, Talut bukanlah orang kaya dan kuat secara harta, bagaimana mungkin kata “wal jism” bisa di tafsirkan dengan makna kuat secara harta? Cukup dengan memperhatikan ayatnya saja, sebenarnya sudah cukup jelas dimana posisi mereka semua di dalam ummatnya Rasulullah SAW. Ahlul Bid’ah sejati.

Seharusnya akal harus berjalan dibelakang wahyu, tetapi yang mereka praktekkan justru mengedepankan akalnya ketimbang wahyu, dalam hal ini mereka memiliki kemiripan dengan faham Mu’tazilah pada masa lalu.


4.   Keamanan

Dengan dalil berdasarkan surah Al Kahfi (17) ayat 20

“Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya".

Ayat ini bukanlah perkataan Allah SWT langsung yang di tujukan kepada manusia secara umum, yang jika demikian akan menjadi syariat atas umat islam, tetapi ayat ini adalah penggalan kisah dalam Al Qur'an, perkataan salah seorang ashabul kahfi kepada sahabatnya yang hendak berbelanja ke pasar ketika mereka bersembunyi dari raja yang dzolim, maka mereka berasumsi bahwa pergerakan mereka pun harus di rahasiakan dari seluruh masyarakat yang ada pada saat sekarang, yang implikasinya strategi dakwah mereka sangat jauh berbeda dengan dakwah yang Rasul lakukan ketika Rasul masih di mekkah, nuansa “khawatir” lebih banyak mewarnai dakwah mereka ketimbang gairah dakwah menyampaikan yang haq, dalam perekrutan mereka memberdayakan orang orang yang masih merah[19], si merah mengajak kerabat dan teman temannya untuk ikut pengajian mereka, orang orang yang sudah hijau memfollow up, pemimpinnya membina dan mengarahkan para orang hijau.

Pemimpinnya SAMA SEKALI TIDAK BERDAKWAH LANGSUNG KEPADA ORANG DILUAR KALANGAN dengan alasan “keamanan”. Dia lah manusia yang paling pengecut dan paling penakut dalam menghadapi manusia lain, sementara Rasulullah SAW telah memberikan teladan dalam berdakwah, bahkan sekalipun di zaman jahiliyyah dan belum di berikan kedaulatan Rasulullah SAW turun langsung dalam berdakwah dengan segala resikonya tanpa beralasan. Ingin dimuliakan sebagaimana manusia memuliakan Rasulullah SAW tetapi tidak mau meneladaninya. MENJIJIKKAN..!!

APAKAH KALIAN AKAN MENGATAKAN BAHWA RASULULLAH SAW KADAR AKALNYA BELUM SAMPAI??

APAKAH KALIAN AKAN MENGATAKAN BAHWA ZAMAN BERBEDA MAKA DIBUTUHKAN CARA YANG BERBEDA PULA??

APAKAH KALIAN AKAN MENGATAKAN BAHWA RASULLULLAH SAW BELUM PAHAM  APA ITU TURBA??

Biasanya dengan TIDAK PERNAHNYA pemimpinnya berdakwah langsung kepada masyarakat, jika terjadi penolakan dan gangguan dari masyarakat, maka pemimpinnya AMAN tidak menanggung resiko apa apa, si hijau dan si merah lah yang harus menanggung resiko, tidak ada bantuan dan kepedulian sedikitpun dari pemimpinnya, bahkan malah menyudutkan dan mencari cari kesalahan si merah atau si hijau dalam rangka cuci tangan dan melepaskan tanggung jawab, LUAR BIASA memang fir’aun kecil ini. Dan jika si merah dan si hijau membongkar rahasia kelompok, pemimpinnya tidak segan segan “mengamputasi”[20] mereka kemudian mengumumkan dan memerintahkan kepada seluruh anggota dimana saja berada untuk ikut “menghukum” si merah dan si hijau -mirip seperti mafioso dan yakuza-. Hanya khowarij pada masa lalu yang selalu merhasiakan misi dakwahnya dari masyarakat islam secara umum

Perhatikan hadits ini :

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ  رَدٌّ.   [رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ]

Dari Ummul Mu’minin; Ummu Abdillah; Aisyah radhiallahuanha dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya), maka dia tertolak. (Riwayat Bukhori dan Muslim), dalam riwayat Muslim disebutkan: siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak

Akses

Berangkat dari pemahaman tentang keamanan ini, muncullah istilah akses di kalangan mereka. Akses menjadi ukuran tingkat kepahaman (dan kemuliaan) seseorang dalam kelompok ini, akses lebih ditujukan kepada rumah dan tempat tempat anggota kelompok ini beraktifitas. Semakin baik –tentu berdasarkan ukuran/mizan “ketaqwaan” versi kelompok ini- seseorang yang belajar bersama mereka, maka akan semakin terbuka lebar aksesnya. Akses yang tertinggi adalah rumah pemimpinnya. Tidak ada lagi tempat yang paling utama DI DUNIA ini bagi anggota kelompok ini selain rumah pemimpinnya.

Jika seseorang sudah dibuka akses ke rumah pemimpin, syarat mutlaknya adalah WAJIB MEMBERI KEMANFAATAN KEPADA PEMIMPIN DAN KELOMPOK..!! Bisa berupa kemanfaatan secara materi, peningkatan perdagangan/omzet bagi perusahaan milik pemimpin, kemanfaatan secara tenaga, kemanfaatan secara “ide atau pemikiran yang bermanfaat BAGI pemimpin”, dan sebagainya. Jika tidak ada kemanfaatan sama sekali, maka pemimpinnya akan berkata “Cuma ngabisin jatah nasi aja”. Inikah sosok yang katanya paling paham tentang Al Qur'an seDUNIA? Orang yang paling diRidhoi Allah SWT hari ini??

5.   Ketaqwaan

Secara teori mereka mengatakan bahwa “jangan takut kepada manusia, tapi takutlah kepada Allah SWT”. Tapi dalam prakteknya, suasana yang terasa sangat kuat sekali yang terbentuk di dalam kelompok ini adalah supaya mengesampingkan ketakutan kepada Allah SWT dan memprioritaskan ketakutan terhadap komentar, ghibah, dan vonis dari pemimpin kelompok dan keluarga perempuannya. Jika ada salah seorang dari anggota kelompok ini yang :

-      Bersebrangan pendapat dengan pemimpin
-      Mengkritik pribadi pemimpin yang PASTI tidak luput dari kesalahan
-      Mengungkapkan fakta bahwa lebih banyak orang yang keluar dari pada orang yang bertahan
-      Bisnisnya tidak terhubung dengan Kerajaan Bisnis pemimpin
-      Mempertanyankan sanad riwayat pemahaman yang di ajarkan
-      Menguji kebenaran klaim pemimpin (seperti yang dilakukan sahabat Salman al Farisyi dan Abdullah bin Salam terhadap Rasulullah SAW sebelum bersyahadat)
-      Tidak mendukung program kelompok

Sekalipun ketika anggota tersebut melakukannya tidak memiliki tujuan lain selain mencari kebenaran dan mencari ridho Allah SWT, maka pemimpin kelompok ini (beserta para penjilat penjilatnya) akan memperlihatkan kebencian yang sangat terhadap anggota tersebut (seringkali para penjilat tersebut hanya ikut ikutan membenci tanpa mengetahui penyebabnya, ironis.. katanya mencari ridho Allah SWT), yang kemudiannya melakukan langkah langkah politis halus yang licik dan culas untuk menjatuhkan marwah si anggota itu. Sehingga menjadi peringatan bagi seluruh anggota yang lain untuk jangan coba coba melakukan hal yang sama.

Ketaqwaan sebenar benarnya taqwakah yang sesungguhnya mereka dakwahkan? Atau taqwa –lagi lagi- yang terhubung/diridhoi oleh pemimpin kelompok ini?

Dengan demikian, sangatlah tidak mengherankan jika PEMIMPIN adalah sosok yang PALING DITAKUTI oleh seluruh anggota kelompok ini, bukan Allah SWT.

Selama anda rajin mendekat kepada pemimpin kelompok ini, gemar menghubunginya, bermanfaat baginya (banyak membantu, apalagi memberi kemanfaatan secara perdagangan), rajin untuk peduli terhadap keadaannya, pandai membuat pemimpin ini bangga terhadap anda, maka tidak perlu lah anda bertaqwa kepada Allah SWT, karena apa pun yang anda lakukan di dalam kelompok ini, akan datang pembelaan dari pemimpin, bahkan sekalipun anda melakukan kesalahan fatal sekalipun. Intinya, siapa saja yang jilatan kepada pemimpin nikmat, pasti akan aman darahnya, marwahnya dan hartanya.


6.   Takfir

Yang paling penting dari doktrin ini adalah mengkafirkan seluruh manusia DI DUNIA yang tidak masuk dalam jama'ah mereka. Menganggap dirinya sajalah jama'atul muslimin itu. Dan pemimpinnya (para pengikutnya biasa memanggil dg panggilan bapak atau abu hamzah) adalah PEMIMPIN TERTINGGI UMAT MUSLIM SEDUNIA. Dalil yang mereka gunakan adalah  surah Al An’am ayat 116 :

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah SWT. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan”

Surah Al Maidah ayat 44 :

Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

Surah Ar Ra’du ayat 1 :

Alif laam miim raa. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Qur'an). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar; akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).

Mengenai tafsir tentang kata “kebanyakan manusia” di dalam ayat 116 surah Al An’am dan surah Ar Ra’du ayat 1, mereka berasumsi bahwa maknanya adalah :

SELURUH MANUSIA DI MUKA BUMI PADA SAAT SEKARANG YANG TIDAK TERHUBUNG KEPADA PEMIMPIN KELOMPOK ABU HAMZAH. Bahwa hanya abu hamzah sajalah satu satunya manusia dimuka bumi pada saat sekarang yang benar, hanya abu hamzah sajalah satu satunya manusia pada saat sekarang yang Allah SWT berikan petunjuk, tidak ada orang lain lagi yang bisa dan boleh menunjuki manusia kepada jalan Allah SWT. Yang artinya siapa pun manusianya pada zaman sekarang yang ingin mendapatkan ridho Allah SWT maka harus mendapatkan ridho abu hamzah terlebih dahulu, caranya, mendekatlah kepada abu hamzah, penuhi semua keinginannya, berikan kemanfaatan yang besar kepadanya, benarkan semua ghibahnya, dustai semua yang menyelesihi pendapatnya, maka abu hamzah pasti ridho dan otomatis Allah SWT pun akan ridho, jika tidak, niscaya akan tersesat dari jalan Allah SWT, karena tidak akan mendapatkan ridho abu hamzah dan bisa dipastikan tidak akan mendapatkan ridho Allah SWT.

Tidak mengeherankan jika orang orang di dalam kelompok ini jauh lebih takut pemimpinnya murka daripada Allah SWT murka, sehingga berkata dusta, menyembunyikan kebenaran, menutup mata terhadap kemungkaran dan kebathilan yang terjadi di dalam kelompok,  bahkan bermuka 7 pun rela mereka lakukan demi mendapatkan ridho pemimpinnya.

Kemudian, mengenai ayat 44 surah Al Maidah, mereka berasumsi bahwa :

Bagaimana akan berhukum dengan Al Qur'an jika mempelajarinya saja tidak, dan bagaimana akan benar mempelajari dan berhukumnya jika tidak dari kami pemahaman Al Qur'an yang dipelajari, maka siapa pun yang tidak mempelajari Al Qur'an dari kami berarti dia tidak berhukum dengan Al Qur'an dan sebagaimana bunyi ayatnya, statusnya adalah KAFIR

Derajat kafir yang mereka tetapkan adalah kekafiran derajat murtad, yang berarti halal darahnya, hartanya dan marwahnya. Mereka menetapkan bahwa, SIAPA SAJA MANUSIANYA DI DUNIA INI pada zaman sekarang yang tidak terhubung kepada si bapak, maka statusnya adalah KAFIR MURTAD. Tidak boleh menikah dengan orang diluar kalangan mereka, tidak boleh menjawab salam dari orang yang diluar kalangan mereka, tidak boleh menshalatkan jenazah muslimin yang tidak terhubung dengan pemimpinnya, tidak boleh menjadi makmum di dalam sholat yang di imami oleh orang luar, tidak boleh memakan hewan yang telah Allah SWT halalkan jika yang menyembelihnya bukan “teman kita”, bahkan bersimpati kepada orang diluar kalangan pun merupakan pengkhianatan terhadap kelompok..!! Sungguh, yang mereka lakukan adalah benar benar memecah belah ummat, padahal mempersatukan ummat yang lah yang sebenarnya Allah SWT perintahkan.

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu berfirqoh firqoh, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS Ali Imron : 103)

Sahabat Rasulullah SAW, ibnu abbas RA mengatakan ketika ditanya tentang ayat ini :

“Bukan kufur yang mereka (Khawarij) maksudkan.Ia bukanlah kekufuran yang mengeluarkan dari millah. tapi jika ia mengerjakannya berarti telah kafir namun bukan seperti orang yang kafir kepada Allah dan hari akhir”[21]

Ibnu Jarir (12063) meriwayatkan dari sanad Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas, ia berkata,

"jika ia juhud (ingkar) terhadap apa yang diturunkan Allah maka ia telah kafir, dan barang siapa mengakuinya namun tidak berhukum dengannya maka ia adalah dholim dan fasiq."

Atha bin Abi Rabah berkata:

”Itu adalah kufrun duna kufrin, dzulmun duna dzulmin dan fisqun duna fisqin.” (lihat Tafsir Ibnu Katsier, juz 2/80)

Lantas berasal dari manakah asal muasal pemahaman kelompok ini? Apakah sudah ada iqomatul hujjah (penegakkan hujjah terhadap muslim lain yang tersesat? Koq bisa-bisanya langsung vonis kafir begitu)? Tak diragukan lagi jika kelompok ini satu pemahaman dengan kelompok khowarij[22] pada masa lalu, alih alih menyatukan ummat islam yang sedang terpecah pada saat sekarang, mereka malah memperkeruh suasana dengan menambah pecahan tersebut. Sedikitpun mereka tidak berusaha mempersatukan ummat islam sebagaimana yang Allah SWT perintahkan.

Orang kafir tetaplah kekafirannya, dan sudah jelas bagaimana sikap kita kepada mereka, namun yang dipertegas disini adalah “VONIS KAFIR” kapada sesama saudara muslim (kadang kadang sesama mereka pun biasa memVONIS KAFIR jika terjadi perselisihan), dimana vonis tersebut akan menjadi halalnya darah seorang muslim, marwahnya dan hartanya, padahal setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, marwahnya dan hartanya


7.   Prinsip inna akromakum aqrobun (racun micro macro cosmos)

Siapa saja yang mendekat dan taat maka selamat (dari vonis kafir, fitnah dan ghibah kami), dan siapa saja yang tidak mau taat kepada pemimpin kelompok ini maka sekali kali tidak akan selamat (dari vonis kafir, fitnah dan ghibah kami). Sekalipun seseorang tersebut ikhlas dalam mengamalkan perintah Allah SWT tidak akan berarti apa apa jika tidak di iringi dengan mendekat kepada pemimpin, begitu pula sebaliknya, sekalipun seseorang tersebut akhlaqnya bukan akhlaq islam[23] asalkan rajin mendekat dan banyak memberikan kemanfaatan, maka akan mulialah dirinya di dalam kelompok ini.

Racun dari keadaan ini adalah semenjak di sosialisasikannya konsep micro dan macro cosmos, yang melihat tanda tanda di alam semesta bahwa semua planet mengelilingi matahari, dan ion ion di dalam atom pun mengelilingi intinya, maka diambil pelajaran bahwa semua murid murid pengajian harus mengelilingi intinya. Pada awal sosialisasi disebutkan bahwa inti yang dimaksud adalah Allah SWT, tapi pada perjalanannya yang terjadi adalah NYATA NYATA PENIPUAN, kata “inti” dalam sosialisasi tersebut diganti dengan makna pemimpin firqoh ini, sehingga prinsipnya bukan lagi “inna akromakum ‘indaAllohi atqokum” tapi sudah berganti menjadi “inna akromakum aqrobun”.

Dalam banyak hal, pemimpin kelompok ini  seringkali memposisikan dirinya setara dengan nabi, bahkan setara Tuhan. Yang menjadi “inti” dari semua ketaqwaan, yang menjadi “inti” dari masyarakat muslimin, yang menjadi penentu benar salahnya sesuatu, yang berhak menentukan seseorang harus tinggal dimana, yang mebuat syariat syariat baru dalam din ini,

Yang membedakan pemimpin kelompok ini dengan para pendusta besar (musailamah al kadzab, thulaihah si nabi palsu, mirza ghulam ahmad nabinya ahmadiyah, ahmad musedeng –musadek-, lia edan –eden-, dan yang sejenis) adalah hanya saja dia tidak melafadzkannya bahwa dirinya adalah nabi baru, dia “hanya ingin” diperlakukan seperti manusia memperlakukan Rasulullah SAW.


8.   Bid’ah pengaturan daftar halaqoh (salah kaprah ayat 61:4)


9.   Karakteristik regenerasi yang FIFO[24]

Inilah salah satu tanda atau bukti yang tidak sanggup di antisipasi oleh pemimpin kelompok ini kecuali hanya dengan jawaban jawaban yang mengada ngada. 99% anggota kelompok ini memilih KELUAR dari kelompok ini. Generasi pertamanya yang tersisa hanya 2 orang saja, yaitu abu adam dan bdoel jalil[25]. Selebihnya adalah anggota anggota yang sedang menunggu antrian untuk keluar, yang pada saat sekarang sedang menyimpan kegundahan dan keraguan dalam hatinya[26] terhadap oknum pemimpin ini. Mayoritas mantan mantan pengikutnya keluar dari kelompok ini dengan membawa kekecewaan, tidak ada satupun mantan pengikutnya yang pergi dengan membawa kesan baik terhadap pemimpin kelompok ini dan kelompoknya. Seperti kesan baik yang imam Syafi’i dapatkan ketika beliau selesai belajar tentang ilmu fiqih kepada imam Ahmad bin Hanbal di baghdad, demikian pula ketika imam Ahmad bin Hanbal selesai mempelajari keilmuan yang dimiliki imam Syafi’i membawa kesan yang sangat positif, dikarenakan keilmuan mereka ttg islam sangat bersinergi dengan akhlaq mereka sehari hari, imam Syafi’i adalah guru sekaligus murid bagi imam Ahmad, imam Ahmad pun guru sekaligus murid bagi imam Syafi’i.

Bagi pemimpin kelompok ini dan seluruh anggotanya, tidak ada istilah SELESAI belajar Al Qur'an kepada kelompoknya, dan dilarang keluar dari kelompok ini, jika berhenti dan keluar maka predikat KAFIR MURTAD akan mereka berikan, sungguh kedustaan yang sangat besar mereka lakukan selama bertahun tahun terhadap ribuan orang korban mereka, jadi sangat tidak mengherankan kenapa semua mantan anggota kelompok ini keluar dengan membawa kekecewaan dan kebencian

Manusia yang tadinya awam berniat hendak mencari kebenaran dan ridho Allah SWT, ketika awal awal mengikuti pengajian kelompok ini terpukau dengan penyajian ayat ayat Al Qur'an yang dipresentasikan di dalam setiap halaqat, sehingga mereka memberikan kepercayaannya kepada kelompok ini –selayaknya orang yang masih awam-. Tapi dalam perjalanannya, perlahan tapi pasti, kelompok ini mulai memperlihatkan wajah aslinya ketika mereka menilai si orang awam tersebut sudah mereka nilai “hijau”. Memperlihatkan kebusukan kebusukan mereka secara vulgar, mempertontonkan keTOLOLan perilaku yang semua serba “kata bapak”, mementaskan secara terang terangan tradisi memfitnah tanpa sebab dan bukti terhadap sesama anggota, (bahkan orang orang awam yang baru bergabung pun sering kali mendapatkan bagian fitnah dan ghibah adari kelompok ini), dan banyak lagi hal hal buruk yang tidak mereka sadari bahwa semua keadaan tersebut di saksikan oleh orang orang yang tadinya awam yang bergabung dengan kelompok ini.

Langkah preventif mereka adalah dengan menyerukan kepada seluruh anggota untuk mengedepankan sangka baik kepada sesama anggota (maksudnya dilarang berfikir, sangka baik aja. Bukankah itu sebuah PEMBODOHAN?), sehingga semenjak dahulu hingga saat ini tidak pernah berhenti fitnah dan ghibah di antara mereka, solusi yang mereka cari hanya basa basi, pada kenyataannya, solusi tinggallah solusi, fitnah dan ghibah tetap jalan terus dengan pola dan teknik yang baru mensiasati solusi yang baru saja mereka temukan. Benar benar adzab Allah SWT telah berlaku atas kelompok ini, hanya keledai keledai bodoh saja yang tetap bertahan dalam kelompok ini.

Mereka sudah ditipu mentah mentah oleh pemimpin kelompok ini..!! Niat awal mereka untuk mencari kebenaran dan ridho Allah SWT dengan memasrahkan diri kepadaNya telah dibelokkan dan dimanfaatkan. Ini tentang masa depan mereka yang abadi selama lamanya di akhirat nanti, sepatutnya mereka jujur kepada Allah SWT atas apa yang mereka saksikan selama berada di dalam kelompok ini, percaya Allah SWT adalah sebaik baik penolong, bukan pemimpin firqoh khowarij gaya baru ini.

Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong[27]

Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.[28]

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.[29]



10. Cara Membangun Generasi
Pola khas nya adalah semua pemahaman yang datangnya dari pemimpin adalah BENAR (karena pemimpin adalah “orang yang paling paham” tentang Al Qur'an seDUNIA pada saat sekarang), dan semua pemahaman yang datangnya bukan dari pemimpin maka harus hati hati dan waspada sebelum di cek/tanyakan ke pemimpin, kalau pemimpin bilang lampu hijau maka bolehlah dijadikan pegangan dalil, tp kalau pemimpin belum melegalkan, maka itu adalah pemahaman liar[30], terlarang bagi para murid untuk melakukan sesuatu yang dasar ilmunya bukan dari pemimpin.
Kemudian segala sesuatu harus berjama'ah dg berdalil hadits “talzamu jama’ah”, silahkan cari atsar dari para shabat dan para imam mengenai hadits ini.
Keta'atan, firqoh ini menempatkan pemimpinnya sebagai PEMIMPIN TERTINGGI UMAT ISLAM SEDUNIA pada saat sekarang setelah Allah SWT dan Rasul, padahal sampai detik ini dan entah sampai kapan pemimpinnya itu tidak pernah bisa menunjukkan bukti bahwa pada saat sekarang dirinya lah yang menjadi PEMIMPIN TERTINGGI UMMAT ISLAM SEDUNIA, terlebih lagi jumlah mereka tidak sampai 3000 orang peserta pengajian dan yg sudah jadi masyarakat inti hanya 111 orang[31], bahasa diplomasi yang mereka gunakan adl “bapak bukan khalifah, tp berfungsi seperti khalifah”. Tapi pada prakteknya sangat jelas pemimpinnya menginginkan perlakuan seperti masyarakat muslim memperlakukan khalifahnya, KETAATAN MUTLAK[32]. bahkan lebih parah, lebih mirip firaun, jika manusia ingin taat kepada Allah SWT, maka harus taat kepada pemimpinnya terlebih dahulu, tidak boleh mentaati perintah Allah SWT kalau pemimpinnya tidak ridho[33]. Sudah banyak bukti bicara ttg hal ini, tapi sayangnya para pengikutnya lebih takut pemimpinnya murka daripada Allah SWT murka. Dan parahnya semua pengikutnya manut dan patuh (taqlid)[34] tanpa meneliti dan menelaah ulang, tanyakan ke diri sendiri :
“Bagaimana sebenarnya kepemimpinan di dalam islam ketika tidak ada khalifah?”
“Istilah amir dalam tiap hadits yg berkenaan dg ketaatan bgm?”
“Legalkah klaim bahwa pemimpin kita adalah PEMIMPIN TERTINGGI UMAT ISLAM SEDUNIA pd saat sekarang? Sementara kita dilarang untuk mengenal ulama ulama lain kecuali mengenalnya dengan semangat dan pemahaman dari pemimpin”
“Benarkah pemimpin kita adalah PEMIMPIN TERTINGGI UMAT ISLAM SEDUNIA pada saat sekarang? Apa buktinya? Siapa yang memberinya kepemimpinan tersebut?”
“Sudahkah kita mempelajari dengan sungguh sungguh bagaimana pendapat Rasulullah SAW dan shahabatnya tentang tiap tiap ayat dalam Al Qur'an? Lalu pemahaman para tabi’in?  para tabi’u tabi’in? para atha thabi’u thabi’in? para imam mazhab dan ulama ulama terbaik pada masa lalu yang selalu berusaha mempersatukan umat muslim sedunia dan memerangi para pemimpin firqoh yang kerjaannya selalu memecah belah jama’ah islam?”[35]
“Jika belum, lantas atas dasar apa kita mengkultuskan pemimpin ini? Takut dianggap keluar dari islam? Takut dibilang kafir? Takut tidak punya teman dalam meneruskan pencarian keterangan keterangan yang mengarahkan kepada kebenaran (yang DILARANG semenjak bergabung dengan firqoh ini)?”
“Masih percayakah akan pertolongan Allah SWT kepada semua hambaNya yang benar benar mencari kebenaran?”
“Apakah bertanya tentang ayat Al Qur'an dan hadits hanya harus kepada pemimpin kelompok ini? Kenapa tidak boleh bertanya kepada ulama lain yang jelas jelas lebih faqih dan lebih bersih dalam memperjuangkan tingginya kalimat Allah SWT”
“Sebenarnya malas atau takut untuk mengenal ulama ulama lain selain dari kelompok ini dengan obyektif?”
“Bukankah pandangan kita Al Qur'an? Kenapa harus khawatir tertular pemahaman ulama lain? Ataukah kita yang tidak yakin dengan pemahaman Al Qur'an kita pelajari?”
Allah SWT telah menjamin keselamatan bagi para pencari kebenaran, dalam surah Al Ankabut ayat 69 Allah SWT berkata :

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

Bermohonlah kepada Allah SWT. Dan masih banyak pertanyaan pertanyaan lain yang akan melintas dalam pikiran kita jika kita memang benar benar mencari ridho Allah SWT (bukan ridho pemimpin) tanpa intervensi. Ingat mas, ini adalah tentang keselamatan kita yang abadi dan selama lamanya di akhirat nanti, jangan biarkan manusia lain memegang leher kita dalam pencarian kebenaran dan pengabdian kita kepada Allah SWT, merupakan hal yang biasa di kalangan para pencari kebenaran menguji apa yang dia pahami utk membuktikan kebenaran sesuatu, perhatikan bagaimana Salman Al Farisy menguji kenabian Rasul, dan pertanyaan Abdullah bin salam kepada Rasul sebelum dia masuk islam. Dan perhatikan pula bagaimana seharusnya pembawa kebenaran (Rasulullah SAW) bersikap ketika ada manusia yang mengujinya dengan pertanyaan pertanyan dan perlakuan[36].
Pemimpin firqoh ini sama sekali TIDAK membangun sistem islam, dia hanya membangun kumpulan manusia yang akan dijadikan market bisnisnya dengan pemahaman INTERNALISASI[37]. Pengaturan daftar halaqoh[38] hanya kamuflase untuk mempermudah penanganan potensi market.
Hal yang paling parah adalah dampak dari doktrin doktrin ini, telah membelenggu orang yang sudah terlanjur ikut firqoh ini[39], yang intinya adalah menghancurkan akal sehat[40], merusak aqidah yang lurus[41] dan memporak porandakan akhlaq[42]. Maka para pengikut firqoh ini secara tidak sadar telah menjadi budak dan robot robot tolol bagi para pemimpin firqoh ini.

11.Bid’ah bid’ah

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ  رَدٌّ.   [رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ]

Dari Ummul Mu’minin; Ummu Abdillah; Aisyah radhiallahuanha dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya), maka dia tertolak. (Riwayat Bukhori dan Muslim), dalam riwayat Muslim disebutkan: siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak

a.   Micro dan macro cosmos
b.   RFC
c.    Transaksi real menggunakan rupiah, tapi di hitung dalam dinar
d.   Bastotan fil jism diterjemahkan dengn makna kuat secara harta
e.   Takfir atas seluruh manusia yang bukan anggota kelompok mereka
f.     Status kepemimpinan
g.    Pengaturan daftar halaqoh


Ironisnya, semua pengikutnya rela diperlakukan seperti itu, mereka meyakini bahwa apapun perlakuan pemimpin terhadap mereka, jika di terima dengan lapang dada maka surga bagian mereka. Adakah Allah SWT telah menjanjikan hal tersebut?

"Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?".(Al Baqoroh ayat 80)

Dimata pemimpinnya, semua pengikutnya tidak lebih hanya budak budak yang harus patuh kepada dia, TIDAK BOLEH langsung kepada Allah SWT, karena hanya dia lah pintu menuju Allah SWT bagi semua manusia, tidak ada pintu yang lain[43]. Tujuan dakwah dia pun hanya untuk merekrut budak budak segar dari masyarakat awam. Perhatikanlah



PENUTUP

Perlu diketahui bahwa issue besar yang dajjal sebarkan melalui setan setannya diseluruh dunia adalah :

YOU ARE GOD..!!

Pemimpin kelompok ini sudah terjebak kedalam pemikiran yang disebar luaskan oleh dajjal secara sadar ataupun tidak. Bersikap dan bertindak layaknya Tuhan, dan mengajarkan kepada semua anggotanya bahwa ridho Allah SWT hanya melalui dirinya, anti dan sangat alergi melihat seluruh ummat islam bersatu kecuali hanya jika pemimpin kelompok inilah yang menjadi khalifahnya. Lebih sibuk mencari perkara PERBEDAAN dengan umat islam yang lain dan memperkeruhnya ketimbang mencari kesamaan kemudian mempersatukannya menjadi sebuah kekuatan untuk menghadapi musuh bersama yaitu Dajjal.

"Akan ada segolongan dari umatku yang tetap atas kebenaran sampai hari kiamat dan mereka tetap atas kebenaran itu." (HR. Imam Bukhari) "Akan tetapi ada dari kalangan umatku sekelompok orang yang terus-menerus menjelaskan dan menyampaikan kebenaran, sehingga orang yang ingin menghinakan tidak akan mendatangkan mudharat bagi mereka sampai datang putusan Allah (hari kiamat)." (HR. Imam Muslim)


Dari Al-Irbadh bin Suriyah r.a. berkata : Rasulullah SAW. pernah bersabda :

"Saya berpesan kepada kamu sekalian, hendaklah kamu takut kepada Allah dan mendengarkan serta patuh, sekalipun kepada bangsa Habsy, karena sesungguhnya orang yang hidup antara kamu sekalian di kemudian aku, maka akan melihat perselisihan yang banyak; maka dari itu hendaklah kamu sekalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khulafah yang menetapi petunjuk yang benar; hendaklah kamu pegang teguh akan dia dan kamu gigitlah dengan geraham-geraham gigi, dan kamu jauhilah akan perkara-perkara yang baru diada-adakan, karena sesungguhnya semua perkara yang baru diadakan itu bid'ah, dan semua bid'ah itu sesat."(Hadits riwayat Ahmad)




[1] Para shahabat, thabi’in, thabi’u thabi’in, atha’ thabi’u thabi’in, imam 4 madzhab, Bukhori, Imam Muslim, Ibnu Majah, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’i, At Thabari, Thawawi, Thabarany, Baihaqqi, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim, Ibnu Katsier, Syaukani, Nawawi, dan masih banyak lagi ulama ulama dan para imam perawi hadits lainnya. Dalam pembicaraan tulisan ini, ulama salaf yang dimaksud adalah mereka
[2] QS Thahaa ayat 2
[3] Pengakuannya secara lisan
[4] QS Al Mu’min : 29
[5] Istilah yang pemimpinnya gunakan untuk mengancam pengikutnya yang kritis, maksud amputasi adalah dikeluarkan dari kelompok
[6] Harfiah taqlid = mengikatkan leher
[7] Harfiah taqlid = mengikatkan leher
[8] Kitab Masail Ibnu Hani’ no. 2011, Risalah Baiat, Ibnu Taimiyyah, hal 13
[9] HR. Thabrani dari Khalid bin Sabi', lihat Fathul Bari, juz XIII, hal. 36
[10] Lihat Fathul Bari, juz XIII, hal.37
[11] Imam Al Mawardi, Al Ahkam As Sulthaniyyah
[12] Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399
[13] Pemimpinnya memaksa orang utk TAQLID kpd beliau
[14] “Karena kami jagonya mengarang propaganda, pasukan perempuan perempuan kami siap siaga melakukan tugas tersebut”
[15] dengan menyepelekan pendapat para imam di kalangan umat islam spt syafii, malik, hanafi, hambali, ibn taimiyyah, ibnu qoyyim, dsb. Lebih sreg belajar sama orang yang jelas kemusyrikannya ketimbang kpd para imam yg sudah di akui keimanannya
[16] Rasulullah SAW dan para shahabatnya di generasi pertama
[17] QS Al Baqoroh ayat 165-167
[18] Kelebihan/kekuatan Fisik/Jasmani
[19] Demikian mereka memberikan istilah status orang orang yang belajar Al Qur'an, “merah” untuk orang yang loyalitasnya kepada kelompok masih diragukan, “hijau” untuk orang yang loyalitasnya kepada kelompok sudah diakui oleh pemimpinnya
[20] Menutup akses mereka ke dalam kelompok dan bisa langsung bersikap menjadi musuh bagi si merah dan si hijau
[21] Riwayat Al Hakim [II/313]dari Hisyam bin Hujair dari Thawus, Atsar ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibn Katsir [II/62] dari Hisyam bin Hujair dari Thawus
[22] Sebuah kelompok di masa Khulafaur Rasyidin yang menghalalkan darah para shahabat dan menggerakan masa untuk menentang dan memberontak kepada mereka dengan alasan demi keadilan, amar ma’ruf nahi munkar, jihad dan seterusnya. Seperti yang pernah mereka lakukan pada Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu sebelumnya. Ayat ini pula yang dipakai KGB (khawarij gaya baru) seperti NII dan Pecahannya, JI dan seluruh kelompoknya, Ikhwanul Muslimin (IM) dan seluruh sempalannya, serta semua kelompok yang menganut quthbisme seperti Muhammad surur, dan masy’ari
[23] gemar melakukan ghibah, fitnah dan sebagainya, gemar mengada adakan berita bohong, bersaksi palsu, dsb
[24] Mengutip istilah dalam management logistic, FIFO = First In First Out
[25] Orang yang berani menetapkan bahwa kegiatan RFC dan A2T hukumnya wajib, menyatakan bahwa semua muridnya harus berorientasi kepada dirinya ketika menfsirkan ayat 144 surah Al Baqoroh, sebenarnya para pengikut kelompok ini menyaksikan kesesatan dan keTOLOLan bdul jalil, tapi berhubung abdul jalil dekat dengan pemimpin kelompok ini dan cukup memberikan kemanfaatan perekonomian, semua kesesatan dan keTOLOLan bdul jalil jadi hilang substansinya, lebih takut pemimpin murka daripada Allah SWT murka.
[26] Mayoritas mereka mengetahui ketidakberesan² kelompok ini dan diam diam mengeluh, tapi sejauh ini mereka bertahan dikarenakan DOKTRIN “Sangka baik” (baca:PEMBODOHAN) masih bekerja, dan kebanyakan mereka masih menutup diri dari pemahaman pemahaman yang datangnya dari luar kelompok mereka. Mudah mudahan Allah SWT membukakan pemikiran mereka yang benar benar berkeinginan kuat mencari kebenaran dan RidhoNya dengan cara yang baik.
[27] QS Ali Imron : 151
[28] QS Al A’rof : 170
[29] QS Al Ankabut : 69
[30] Perhatikan kemiripan polanya dengan pola pengajaran ahlul kitab kepada ummatnya di dalam Al Qur'an surah Al Maidah ayat 41
[31] Jumlah umat islam di dunia sekarang 2 milyar lebih, 111 orang yang TAQLID tidak bisa mewakili urusan keislaman 2 milyar ummat islam, itu hanyalah sampah ummat, dan memimpin 111 orang yang taqlid lebih rendah dari pada menggembala 111 ekor kambing
[32] Membantah pernyataan ini sudah biasa, tapi silahkan buktikan sendiri dengan mencoba “tidak mendukung program jama’ah”, cap kafir, munafik, fasik, dsb akan bertubi tubi menyerang anda. Bahkan utk urusan perniagaan pun harus di koordinir –benar benar ahlul bid’ah-.
[33] dengan alasan karena bapak yang paling mengetahui kedaan sekarang, seakan akan bapak mendapatkan keizinan dari Allah SWT berbuat seperti itu
[34] TAQLID = mengikatkan tali di leher, kemudian menyerahkan ujungnya kepada orang lain
[35] Cth : imam Abu Hanifah, Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah dan kedua muridnya Imam ibnul Qoyyim dan Ibnu Katsier, jangan malas mengenal pribadi mereka dan pemikiran mereka, pemahaman orang di tahun 1432H skrng TIDAK LEBIH BAIK daripada para imam imam tersebut
[36] Bukan malah marah marah kemudian mencari cari kesalahan orang yang bertanya
[37] Landasan hukum yang dia pakai adl surah Baroah ayat 17-20. Perhatikan, memakmurkan masjidil haram ditafsirkan dengan belanja ke sesama teman pengajian saja (spesifik: lebih di ridhoi jika belanjanya ke perusahaan yg ada saham bapak/perusahaan bapak disana), na’udzubillah min dzalik, tidak ada 1 riwayat penafsiran dari para shahabat Nabi dan para imam yang menafsirkan seperti ini, apalagi dengan mempersiapkan perusahaan perusahaan di segala bidang terlebih dahulu sebelum meluncurkan pemahaman sesat ini, supaya ga kemana mana keuntungan transaksinya. Jelas sekali kesesatannya sebenarnya, sejelas matahari di siang hari, afala ta’qilun?
[38] Pengaturan halaqoh pun dalilnya dipaksakan dari tafsir surah Ash Shof QS 61:4
[39] Mempelajari dan mengimani Al Qur'an seharusnya melepas belenggu (QS 7:157)
[40] Semakin masuk kedalam firqoh ini akan semakin TIDAK BISA membedakan yang mana bodoh mana pintar, mana panjang mana pendek, mana besar mana kecil, mana gelap mana terang, mana benar mana salah, semua tergantung APA KATA BAPAK
[41] Kata bapak lebih sakti daripada kata Allah SWT, krn kalau kata Allah SWT yang tidak disetujui bapak, akan mentah, dg alasan kadar akal, belum waktunya, keadaan, keamanan, dsb
[42] Sudah lazim terjadi kebohongan di firqoh ini, ghibah pun diteladankan/dicontohkan oleh kuncennya (agus/bapak), mudah memvonis tanpa pengecekan (sekalipun thd orang yang sudah hijau), memecah belah persaudaraan di kalangan sesama anggota, melunturkan kepercayaan antar sesama anggota, antar suami dan istri, anak dan bapak, guru dg muridnya dg alasan orientasi keatas (ke pemimpin maksudnya, bukan ke Allah SWT), tp disisi lain disuruh bersatu dan berkasih sayang.
[43] Bedanya dengan ahmad musaddek dan lya eden hanya dia tidak mengaku sebagai nabi baru
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
Judul: Selamat Tinggal Firqoh Abu Hamzah
Ditulis Oleh Ilyaz Rahmat
Jika mengutip Artikel, diharap memberikan link yang menuju ke artikel Selamat Tinggal Firqoh Abu Hamzah ini. Sesama blogger mari saling menghargai. Terima kasih atas perhatiannya
Share this post :
close
close
 
Copyright © 2011. CUAP CUAP BERBAGI INFO YANG BERMANFAAT DAN BERGUNA - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger